Ciptakan Bibit Unggul Masa Depan melalui Upaya Kolaboratif di Kampus Mengajar

Sharing is caring!

Bandung, 19 Februari 2023—Pendidikan adalah solusi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Dirjen Paudasmen), Iwan Syahril di hadapan perwakilan pimpinan dinas pendidikan kabupaten/kota/provinsi dan pimpinan unit pelaksana teknis di wilayah Jabar, serta dosen pembimbing, mahasiswa, dan orang tua yang hadir pada pelepasan mahasiswa program Kampus Mengajar angkatan kelima di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat (Jabar).

“Investasi SDM itu penting, jika pemimpin daerah menyadari pentingnya investasi pendidikan maka SDM unggul semakin mudah tercipta. Tentunya ini membutuhkan gotong royong semua pihak untuk menjadikan Indonesia semakin maju di masa mendatang,” ujarnya di Bandung, Jumat (17/2).

Prinsip gotong royong ini pula yang didorong oleh Dirjen Iwan agar seluruh pemangku kepentingan bersama-sama membangun SDM unggul melalui kebijakan Kampus Mengajar. Menurutnya, kompetensi SDM akan semakin matang jika diasah melalui kerja nyata di lapangan.

“Pengalaman adalah pembelajaran terbaik. Experience learning adalah model dan modal pembelajaran yang memperkaya kompetensi individu. Dengan Kampus Merdeka mahasiswa dapat merasakan proses pembelajaran di luar text book,” tutur Iwan seraya mengimbau agar semua pihak dapat mendukung terlaksananya program Kampus Mengajar supaya dapat berjalan dengan baik.

Dirjen Iwan menerangkan, hasil Asesmen Nasional Kemendikbudristek 2021 menunjukkan bahwa satu dari dua peserta didik di Indonesia belum mencapai kompetensi minimum literasi. Sementara dua dari tiga peserta didik tersebut belum mencapai kompetensi minimum untuk numerasi. Dengan kata lain, meski sebagian anak Indonesia bersekolah tetapi masih banyak di antara mereka yang belum memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dasar yang diperlukan di masa depan.

“Penugasan mahasiswa Kampus Mengajar akan dapat menjadi rantai penghubung dalam pengembangan keilmuan di kampus, sekolah, dan masyarakat,” ujarnya.

Kepada mahasiswa, Dirjen Iwan berpesan untuk dapat beradaptasi dan berkolaborasi, merefleksikan sistem pembelajaran yang efektif sesuai karakter dan kebutuhan satuan pendidikan. “Refleksikan bersama guru dan kepala sekolah, diskusikan berbagai ide inovatif yang bisa menjadi solusi untuk membantu adik-adik peserta didik meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi,” pesan Iwan.

Berdasarkan data Kemendikbudristek, peserta Kampus Mengajar angkatan 5 di Provinsi Jawa Barat sebanyak 2.743 mahasiswa yang menyasar ke 682 sekolah di kabupaten/kota. Di wilayah Jabar, program ini melibatkan 342 dosen pembimbing lapangan di 135 perguruan tinggi.

Testimoni dan Dukungan Program Kampus Mengajar

Kepsek SDN Padasuka Mandiri 4 Kota Cimahi, Lilis Yulia Nuryani, menyampaikan apresiasi atas program Kampus Mengajar karena ia nilai sangat bagus dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan literasi dan numerasi. “Harapannya, program ini dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah baik akademik maupun nonakademik,” tuturnya.  

Selanjutnya, Kepala Dinas Kota Tasikmalaya, Ely Suminar mengakui dampak dari Kampus Mengajar yang ia rasakan di sekolah pada angkatan sebelumnya signifikan dalam peningkatan mutu pembelajaran. “Kampus Mengajar membantu para guru dalam mempersiapkan kurikulum pembelajaran. Kami bersama kepala sekolah berkomitmen untuk mendampingi mahasiswa agar program ini dapat berjalan dengan baik,” kata dia.

Kemudian, salah satu peserta yang bernama Adzkia Marwa mengatakan keikutsertaannya dalam program ini adalah untuk menambah keterampilan dan pengalaman dalam membantu peserta didik yang mengalami kesulitan pembelajaran. “Karena dengan turun ke lapangan, saya bisa merasakan bagaimana mengajar anak-anak secara langsung,” ucap mahasiswa semester enam, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan Pendidikan Bisnis ini, ketika menyampaikan motivasinya mengikuti program Kampus Mengajar.

Adzkia yang akan bertugas di SDN Cinanggela, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jabar ini, mengaku telah mempersiapkan diri dengan cara mengikuti pembekalan, sering mencari informasi dari rekan maupun angkatan terdahulu, serta melakukan observasi ke tempatnya bertugas. “Jarak dari tempat tinggal saya ke tempat saya mengajar sekitar 30 km, namun melihat sambutan yang luar biasa dari sekolah, membuat saya bersemangat,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BBPMP Provinsi Jabar Sri Wahyuningsih mengingatkan agar para mahasiswa senantiasa menjaga kesehatan, keselamatan, dan marwah pendidikan tinggi di manapun berada. “Siswa SD dan SMP akan senang menerima kalian sebagai pengajar. Jadikan itu sebagai motivasi untuk mengembangkan diri menjadi individu yang inovatif, kreatif dan mandiri untuk bersama-sama mewujudkan Profil Pelajar Pancasila,” pesan Sri.

Sri juga meminta kepada guru untuk memberi senantiasa membuka diri saling menguatkan dalam proses pemulihan pembelajaran. “Jadikan sekolah sebagai lab dan guru sebagai mentor untuk berkolaborasi dengan masyarakat sekitar,” tutupnya. (Denty A./Editor: Seno H.)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *