PUSPAGA Berikan Layanan Konseling bagi Masyarakat Penuhi Pengasuhan Berbasis Hak Anak

Sharing is caring!

PUSPAGA Berikan Layanan Konseling bagi Masyarakat Penuhi Pengasuhan Berbasis Hak Anak 1

Jakarta (16/09) “Konseling merupakan salah satu layanan prioritas yang diberikan PUSPAGA kepada masyarakat, utamanya untuk meningkatkan para orangtua agar mampu memberikan pengasuhan sesuai dengan hak anak. Selama ini, masih ada orangtua yang membutuhkan bantuan para psikolog atau konselor untuk mengatasi persoalan keluarga atau pengasuhan anak. Oleh karenanya, Bimbingan Teknis (Bimtek) terkait teknik konseling menjadi penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas para psikolog dan konselor PUSPAGA dalam meningkatkan layanan konseling yang diberikan,” tutur Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan, Keluarga, dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Rohika Kurniadi Sari pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Psikolog/Konselor Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Sesi 5 (lima) dengan tema “Teknik Konseling” secara virtual yang diikuti oleh perwakilan dari 146 PUSPAGA di seluruh Indonesia (15/09).

Layanan konseling yang diberikan oleh PUSPAGA berbeda dengan sesi “curhat”, dan konselor bukanlah motivator atau pemberi nasihat. Hal tersebut disampaikan oleh narasumber Bimtek PUSPAGA, yakni Psikolog Klinis, Gisella Tani Pratiwi.

“Ingat, konseling berbeda dengan “curhat”. Layanan konseling merupakan pemberian bantuan atau fasilitasi yang membutuhkan keahlian dan prinsip tertentu dari seorang konselor. Hasil dari konseling adalah perkembangan kemampuan dan potensi klien yang akan terlihat dari fungsi sehari-hari dan kemampuan klien dalam memecahkan masalahnya. Hal lain yang juga harus kita ingat konselor bukanlah motivator atau pemberi nasihat. Fungsi konselor adalah sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan dan bantuan dengan keahlian tertentu dengan memperhatikan prinsip-prinsip, diantaranya menghargai nilai-nilai, aspirasi, karakteristik klien, dan mengembangkan relasi yang mendukung perkembangan klien,” jelas Gisella.

Gisella menambahkan kriteria konselor PUSPAGA sebaiknya berlatar belakang profesi seperti psikolog, pekerja sosial, atau bimbingan konseling profesi. Walaupun tidak memiliki latar belakang profesi, konselor PUSPAGA dapat berasal dari lulusan strata 1 (S1) di bidang yang berkaitan dengan pengasuhan atau pendidikan keluarga, serta mendapatkan pembekalan dan pelatihan terkait Konvensi Hak Anak dan mengikuti pelatihan layanan konseling PUSPAGA.

Dalam Bimtek tersebut juga dijelaskan langkah-langkah yang dilakukan konselor dalam memberikan layanan konseling PUSPAGA. Langkah pertama adalah proses menerima klien. Sebelum menerima klien sebaiknya konselor juga mempelajari dahulu berkas atau informasi terkait klien. 

Langkah kedua adalah  proses konseling. Sebelum memulai proses konseling, konselor meminta persetujuan klien (informed consent) dan selanjutnya konselor akan menggali dan menyimpulkan masalah yang dialami klien. Dalam tahap ini konselor dapat menggunakan kemampuannya untuk menganalisis masalah, seperti menganalisis permasalahan orangtua yang mempunyai kesulitan dalam mengasuh anaknya. Lalu, konselor dan klien mendiskusikan rencana intervensi masalah karena proses konseling bersifat dua arah.

Langkah ketiga, konselor memberikan arahan sesuai kebutuhan, seperti pertemuan konseling selanjutnya, dan layanan di dalam lembaga atau di luar lembaga. Langka keempat, konselor melengkapi catatan proses konseling. 

Selain itu, penting untuk menerapkan teknik konseling dalam memberikan layanan,  yaitu menjalin rapport (hubungan baik/rasa percaya),mendengar aktif, serta teknik bertanya dengan pertanyaan terbuka dan melakukan observasi. Selama proses konseling, konselor juga  harus berempati  untuk membangun kepercayaan klien dan membuat klien lebih nyaman dalam menyampaikan permasalahan/persoalan yang dihadapinya.

Dalam kesempatan ini, salah satu perwakilan konselor dari PUSPAGA di Yogyakarta, Novi juga menanyakan suatu kondisi terkait bagaimana cara menghadapi klien sepasang suami istri dengan keadaan tekanan emosi yang tinggi ketika mengunjungi PUSPAGA. 

Menurut Gisella hal pertama yang harus dilakukan adalah meredakan emosi pasangan suami istri bersangkutan. “Konselor harus meredakan emosi keduanya terlebih dahulu. Konselor diharapkan dapat membuat klien merasa tenang sehingga klien dapat menyampaikan permasalahan dan kondisinya dengan jelas. Di samping itu, konselor juga dapat menggali dan mengamati permasalahan dan kondisi klien, sehingga dapat memberikan respon secara proporsional,” jelas Gisella.

Selama masa pandemi PUSPAGA di beberapa daerah, khususnya yang berada dalam zona merah Covid-19 juga dianjurkan untuk melakukan konseling secara online.

“Jika konseling dilakukan secara online, para konselor harus memastikan beberapa hal, diantaranya pemilihan platform atau aplikasi yang sesuai dengan konselor dan klien, kuota dan sinyal yang stabil, gawai yang mendukung, situasi ruang konselor yang tenang (baik bagi konselor dan klien), menjaga kerahasiaan klien, tetap berpegang pada kode etik profesi, dan tetap menjalankan alur layanan,” tutup Gisella.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *