UPH Hadirkan Mendikbud Sambut Mahasiswa Baru

Sharing is caring!

“Indonesia Butuh SDM Berkualitas dan Pendidikan Bermutu”
UPH Hadirkan Mendikbud Sambut Mahasiswa Baru 1

Di hari kedua UPH Festival 2020 ‘Grow and Go’, mahasiswa baru UPH disapa oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.BA dalam acara Distinguished Guest Speaker (DGS) pada 19 Agustus 2020 melalui aplikasi online. DGS kali ini dipandu Prof. Dr. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp. Bs., Ph. D. – Dekan Fakultas Kedokteran UPH.

Dalam sesinya, Nadiem menekankan bahwa cita-cita Indonesia untuk bisa menjadi negara maju adalah dengan memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Hal tersebut dapat diwujudkan tentunya dengan didukung sistem pendidikan yang bermutu.

“Saya dan Pak Presiden dulu sering berbincang tentang inovasi digital, ingin membawa negara kita ini bergerak menuju digital. Tapi, selalu ujung-ujungnya adalah masalah dengan SDM. Kemajuan ini justru kuncinya harus berdasarkan dari SDM yang berkualitas dan pemain utama dari SDM berkualitas itu sendiri adalah sistem pendidikan. Kemudian, harapan kita terhadap anak-anak muda itu banyak, karena kita yakin anak muda lebih berpotensi untuk mempelajari hal-hal baru,” jelas Nadiem.

Namun selama pandemi, menurut Nadiem, sistem pendidikan Indonesia mengalami krisis pembelajaran. Belajar secara online saat ini dirasa belum optimal karena masyarakat tidak dapat beradaptasi dengan cepat selama waktu 6 bulan ini.

“Pandemi betul-betul memukul kita secara dahsyat, kita tidak hanya mengalami krisis kesehatan dan ekonomi, tapi juga krisis pembelajaran. Orang-orang yang menjalankan pembelajaran online, selama ini belum optimal karena masih tidak bisa beradaptasi dengan sistem ini. Akan butuh bertahun-tahun untuk benar-benar menjalankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Tapi tentu ada titik terang, kita melakukan penyederhanaan kurikulum, kita buat kurikulum darurat sehingga guru bisa fokus ke hal-hal yang esensial saja, selain itu masifnya adaptasi teknologi juga kini terjadi,” tambah Nadiem.

Nadiem berharap, sistem pendidikan setelah pandemi ini berakhir, dapat memiliki kemajuan bahkan langsung melompat ke arah yang lebih baik. Ia juga berharap, mahasiswa saat ini harus lebih aktif lagi menambah pengalaman dan juga wawasan, sehingga menjadi profesional yang siap terjun ke lapangan karena itu yang dibutuhkan Indonesia saat ini.

“Mahasiswa saat ini jangan cuma belajar di ‘kolam renang’ saja, harus sudah dilatih di ‘laut terbuka’ bahkan seharusnya langsung saja belajar di ‘laut terbuka’ itu. Saat ini Indonesia butuh lulusan yang sudah siap masuk ke dunia profesional sehingga kalau sudah dilatih belajar di ‘laut terbuka’ mereka gak kaget lagi. Ini selaras dengan salah satu gagasan kampus

merdeka, 1 tahun dari 4 tahun masa studi itu bisa dipakai mahasiswa belajar di luar kampus, explore lagi pengetahuan dan dunia pekerjaan,” pesannya.

DGS UPH Festival 2020 juga menghadirkan staf ahli dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Hukum dan HAM, diantaranya, Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D, Sp. THT-KL (K), MARS. – Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan yang memaparkan bahwa kualitas SDM dokter di Indonesia harus ditingkatkan lagi sehingga kepercayaan antara dokter dan pasien terbentuk, dan masyarakat tidak perlu berobat ke luar negeri atau impor dokter lagi. Sedangkan dari Kementerian Hukum dan HAM, Dr. Mualimin Abdi, SH, MH – Direktur Jendral (Dirjen) Hak Asasi Manusia (HAM) menjelaskan bahwa di tengah kondisi pandemi banyak masyarakat yang menyuarakan bahwa kebijakan PSBB; memakai masker, dan jaga jarak, mengekang HAM. Padahal selain hak asasi, ada juga kewajiban asasi yang harus dipatuhi oleh masyarakat sebagaimana yang terkandung di Pasal 28C Ayat (2) UUD 1945: masyarakat sebenarnya juga wajib menghormati, melindungi hak asasi manusia yang lain untuk hidup sehat.

Menyimpulkan paparan yang disampaikan narasumber dari Kemenkes dan Kemenkumham, Prof. Eka selaku moderator, mendorong mahasiswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan proaktif, meskipun sistem pembelajaran online masih menjadi tantangan bagi  semua pihak, baik institusi, dosen, dan juga mahasiswa itu sendiri.  Lebih lanjut, terkait peran mahasiswa dalam menyuarakan HAM, ia mengajak mahasiswa untuk menjadi ambassador masyarakat, bahwa yang harus dilakukan bukan hanya hak asasi semata tetapi sekali lagi harus melindungi kewajiban asasi. 

“Mari kita berbuat sesuatu dan jangan diam saja. Kita harus positive thinking agar dapat menghasilkan sesuatu yang unik, dalam arti apa yang bisa kita lakukan. Mungkin kita bisa memikirkan sesuatu yang belum kita pikirkan sebelumnya,” ungkapnya.

Acara ini diikuti oleh 3.800 mahasiswa baru yang tersebar di lokasi Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan Medan serta terbuka untuk publik. UPH Festival merupakan acara tahunan UPH untuk menyambut mahasiswa baru dan juga para siswa SMA serta publik.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *