Jaga Kelestarian, KKP Lepasliarkan 205 Tukik Ke Alam

Sharing is caring!

Jaga Kelestarian, KKP Lepasliarkan 205 Tukik Ke Alam 1

TIMOR TENGAH SELATAN (21/7) – Konsisten menjaga kelestarian penyu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali melepasliarkan 205 tukik ke habitatnya. Ratusan tukik berjenis penyu lekang tersebut merupakan hasil penetasan relokasi telur penyu di Demplot Penyu Tuafanu.

Pelepasliaran dilakukan oleh Unit Pengelola Teknis (UPT) Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang bersama dengan Kelompok Pengawas dan Pelestarian Penyu Tefaun di pantai Desa Tuafanu, Timor Tengah Selatan, NTT (18/7).

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), Aryo Hanggono saat memberikan keterangan di Jakarta (20/7) mengungkapkan kegiatan pelepasliaran tukik merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu dan upaya pemerintah dalam menjamin kelestarian penyu di Indonesia.

“Penyu merupakan salah satu biota laut yang terancam punah dan statusnya telah dilindungi secara nasional dan internasional. Penyu termasuk dalam apendiks I CITES dan daftar merah Badan Konservasi Dunia (The International Union for Conservation of Nature Red List/IUCN Red List),” ungkap Aryo.

Selain sebagai upaya pelestarian, Aryo mengharapkan kegiatan pelepasliaran tukik ini dapat menjadi sarana edukasi kepada masyarakat umum tentang pentingnya melestarikan penyu. “Semoga kegiatan ini juga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan biota laut dilindungi ini,” pesannya.

Di tempat terpisah, Kepala BKKPN Kupang, Ikram M. Sangadji menuturkan bahwa pelestarian penyu di Desa Tuafanu akan dikembangkan menjadi pelestarian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan demplot penyu tidak hanya sebagai sarana pelestarian dengan melepasliarkan tukik penyu, namun juga sebagai sarana wisata edukasi tentang jenis penyu.

“Upaya pelestarian dengan memanfaatkan demplot penyu di Desa Tuafanu hingga saat ini sudah berjalan dengan baik, namun pengelolaannya belum dapat memberikan outcome atau penghasilan untuk kelompok maupun masyarakat di Desa Tuafanu,” tutur Ikram di Kupang (18/7).

Ikram menjelaskan pengembangan demplot sebagai wisata edukasi ke depannya perlu dilakukan agar pengelolaan demplot dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan. Menurutnya, pengembangan ini dinilai potensial karena demplot berada di dekat obyek wisata yang cukup dikenal di Provinsi NTT yaitu Pantai Oetune dengan gumuk pasir indah sebagai salah satu daya tariknya.

”Untuk membantu masyarakat di masa pandemi Covid-19, pada kegiatan pelepasliaran tukik penyu ini juga dilakukan penyerahan bantuan bahan material untuk renovasi demplot penyu sebagai program padat karya. Pelaksanaan renovasi juga melibatkan anggota kelompok masyarakat,” tandasnya.

Kelompok Tefaun merupakan salah satu kelompok binaan BKKPN Kupang yang berperan sebagai pengelola demplot penyu di Desa Tuafanu, Kec. Kualin, Kab. Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kelompok ini beranggotakan 14 orang dengan 1 anggota perempuan yang bertugas mengurus administrasi dan anggota lainnya bertugas mengurus hal teknis.

Demplot penyu dibangun pada tahun 2016 untuk melindungi telur penyu dari predator alami seperti anjing dan babi ataupun dari manusia yang berusaha mengambilnya untuk dikonsumsi atau dijual.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *