Era “New Normal”, Kemendag Dorong Bisnis Ritel Jadi Motor Pemulihan Ekonomi Saat Pandemi Covid-19

Sharing is caring!

Era "New Normal", Kemendag Dorong Bisnis Ritel Jadi Motor Pemulihan Ekonomi Saat Pandemi Covid-19 1
Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto menghadiri “Ngobrol Seru IDN Times” secara virtual dengan tema “New Normal, Bisnis Ritel Pasca Pandemi COVID-19”, Jakarta, Kamis (18 Juni).

Jakarta, 18 Juni 2020 — Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan, bisnis ritel bisa menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi di era “new normal”. Untuk itu, Mendag Agus meminta para pelaku usaha ritel agar berupaya menjalankan bisnis ritel dengan tetap
memperhatikan protokol kesehatan, baik bagi pekerja maupun konsumennya. Hal ini disampaikan Mendag saat menjadi narasumber pada acara ‘Ngobrol Seru IDN Times’ secara virtual dengan tema “New Normal, Bisnis Ritel Pasca Pandemi Covid-19” di Jakarta, pada Kamis (18/6).

Selain Mendag, narasumber pada kegiatan ini adalah Ketua Penasehat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Handaka Santosa dan Chief Marketing Officer (CMO) Lazada Monika Rudijono. Acara yang disiarkan langsung di kanal Youtube IDN Times ini dipandu oleh
Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis.

“Pemerintah memandang bahwa keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama nasional. Namun, ekonomi nasional juga harus diselamatkan dengan tetap mengutamakan kesehatan masyarakat,” kata Mendag Agus.

Menurut Mendag, kontribusi sektor perdagangan secara umum, dan bisnis ritel secara khusus, terhadap perekonomian Indonesia tetap penting, meskipun pertumbuhannya melambat selama masa pandemi. Pada kuartal I 2020, kontribusi sektor perdagangan besar dan eceran terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional tercatat 10,68 persen, tidak jauh berbeda dibanding kuartal sebelumnya selama lima tahun terakhir.

Mendag melanjutkan, konsumsi domestik memberikan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap PDB selama lima tahun terakhir. Selain itu, pada triwulan I 2020, kontribusi konsumsi terhadap PDB tercatat naik hingga 58,14 persen.

“Melihat kontribusi sektor perdagangan dan pentingnya konsumsi dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, pemerintah terus berupaya secara maksimal agar bisnis ritel tetap bergairah di masa pandemi Covid-19,” tandas Mendag.

Mendag mengungkapkan, pembukaan aktivitas perdagangan tidak bisa langsung mengembalikan 100 persen omzet. Namun, dengan adanya aktivitas perdagangan, paling tidak pelaku usaha tetap mendapat pemasukan. Untuk itu, pemerintah akan memberikan insentif untuk bisnis ritel di masa pandemi Covid-19.

“Kami telah mengusulkan pemberian insentif untuk bisnis ritel kepada Menteri Kordinator Bidang Perekonomian berdasarkan masukan dari pelaku usaha terkait. Semoga dalam waktu dekat, usulan insentif tersebut dapat segera direalisasikan,” terang Mendag.

Mendag juga menyampaikan, kelas menengah saat ini mengalami penurunan pendapatan ratarata 30 persen. Selain daya beli yang tertekan, mereka juga mengalami penurunan keinginan untuk berbelanja karena cenderung menghindari penularan virus selama pandemi.

Selain itu, pola transaksi kelas menengah juga banyak beralih ke platform digital. Kombinasi dari berbagai hal tersebut menyebabkan bisnis ritel kehilangan potensi penerimaannya hingga 70 persen.

Sebagai respons atas perubahan pada kelas menengah selama pandemi, pemerintah melakukan beberapa langkah. Pertama, memastikan bahwa pusat-pusat perbelanjaan, baik modern maupun tradisional, menerapkan dan menjaga standard kesehatan yang ketat. Hal ini penting dilakukan
agar kelas menengah, terutama yang masih memiliki daya beli, memiliki kepercayaan, dan keinginan untuk berbelanja kembali.

Kedua, mendorong bisnis ritel untuk bisa beradaptasi dengan pola perubahan transaksi di masa mendatang. Yaitu, tidak hanya bisnis fisik tapi juga mulai masuk ke ekosistem bisnis digital dengan memadukan penjualan luring dengan daring.

Di sisi lain, Handaka mengungkapkan, pelaku usaha ritel mengapresiasi langkah Kementerian Perdagangan yang telah membuka kembali pusat perbelanjaan di tengah pandemi Covid-19, namun tetap mengedepankan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi domestik, sekaligus menjadi momentum untuk mulai meningkatkan ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Monika menyampaikan, niaga eletronik terus mengalami kenaikan selama masa pandemi. Terjadi perubahan pola belanja di masyarakat, yaitu dari belanja luring menjadi belanja daring. Dari segi produk, juga terjadi pergeseran menuju barang kebutuhan dasar.

“Hal ini menjadi peluang produk lokal untuk dapat memasuki pasar niaga elektornik. Untuk itu, peran industri lokal di Indonesia harus ditingkatkan, terutama untuk pelaku usaha kecil mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pelaku usaha niaga elektronik berharap pemerintah memberikan
dukungan untuk mengangkat UMKM melalui kemudahan regulasi,” jelas Monika.

Mendag kembali menegaskan, pemerintah terus berkomitmen agar masyarakat tetap mengikuti protokol kesehatan serta tetap produktif untuk melaksanakan aktivitas ekonomi dan perdagangan.

“Saya berharap masyarakat tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan agar tetap aman dan produktif. Saya juga mengajak seluruh pelaku usaha memprioritaskan produk-produk buatan Indonesia untuk dipasarkan lebih luas kepada konsumen. Hal ini sejalan dengan diluncurkannya “Gerakan Bangga Buatan Indonesia” oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Mei 2020,” pungkas Mendag.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *