Yogyakarta, 28 September 2019 – Indonesia tidak hanya menawarkan pesona keindahan alamnya yang memang sudah terkenal ke berbagai penjuru dunia, Indonesia juga kaya akan tradisi dan seni. Mulai dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah di Indonesia memiliki bahasa dan budayanya masing-masing yang sangat unik dan beragam. Yogyakarta menjadi kota kelima penyelengaraan Ministry of Finance (MOFEST) 2019, setelah sebelumnya berlangsung di Pekanbaru, Pontianak, Kendari, dan Surabaya.
Pada sesi pertama MOFEST Talk menghadirkan Mila Rosinta, Choreographer, Dancer, dan Owner Mila Art Dance School dan Marzuki ‘Kill The DJ’, Musisi dan Founder Jogja Hip Hop Foundation. Keduanya berbagi Inspirasi serta pengalaman tentang bagaimana berkarya hingga ke kancah internasional dengan membawa budaya lokal dengan tema talkshow Local Go Global.
“Kita tidak bisa menyalahkan zaman, tapi kita yang harus mengikuti zaman. Kita harus mencari solusi, gali potensi lokal yang ada disekitar kita, jujur berkarya, dan suarakan terus hingga orang dengar”, ujar Mila. Sejalan dengan Mila, Marzuki juga mengungkapkan “ketika tidak ada pasar, kita ciptakan pasar kita sendiri, Ketika media tidak mendukung kita, maka kita bangun media sendiri. Kita adalah publisher jangan hanya mengeluh.Setiap orang adalah media dan bisa mempublikasikan sesuatu,” pungkasnya.
Di sesi kedua dengan tema Future of Today, hadir sebagai narasumber yaitu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, Penghageng Tepas Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Dionysius Lucas Hendrawan, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Heru Pudyo Nugroho, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB), Provinsi (DIY). Dalam kesempatan tersebut, para narasumber menyampaikan tentang pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menuju Indonesia Emas 2045 dan bagaimana para pemuda ikut berkontribusi serta turut mengawasi pembangunan negara.
Kepala Kanwil DJP, Dionysius Lucas Hendrawan mengatakan ada tiga faktor penentu keberhasilan Indonesia mendatang yaitu infrastruktur yang merata di Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang bagus dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, dimana para millennial dalam 26 tahun mendatang mungkin sudah menjadi penentu kebijakan. “Generasi muda jangan jadi penonton di rumah sendiri, kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menjadi entrepreneur, ilmuwan, dan insinyur buatlah Indonesia menjadi lebih great.”
APBN 2020 mengusung tema APBN untuk akselerasi daya saing melalui inovasi dan penguatan kualitas SDM, sebagai tahapan jangka menengah pertama menuju pencapaian visi Indonesia 2045. Pemerintah telah membuat strategi pembangunan SDM secara holistik. “Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan jaminan program indonesia sehat, bantuan pangan, program keluarga harapan, bidik misi, beasiswa LPDP, tunjangan profesi guru, penyediaan lapangan kerja, kredit ultra mikro, jaminan hari tua, dan JKN bagi warga miskin mulai dari dalam kandungan, usia balita, sekolah, perguruan tinggi, bekerja, hingga hari tua,” ungkap Kepala Kanwil DJPB, Heru Pudyo Nugroho.
Bicara soal seni dan budaya di Yogyakarta, banyak terus bermunculan para seniman yang membuat Indonesia bangga akan prestasi dan karyanya yang mendapat pengakuan dan reputasi tingkat dunia. Hal tersebut yang membuat Yogyakarta menjadi kota yang Istimewa. “Modernisasi itu tidak selalu westernisasi. Budaya itu harus tetap survive bukan dimusnahkan,” ujar GKR Hayu.
Pada sesi terakhir, turut hadir Didi Kempot, Musisi dan Erix Soekamti, Musisi dan Social Entrepreneur sebagai pembicara. Pada sesi ini keduanya membagikan inspirasi tentang bagaimana menyadari potensi diri, menekuni kegemaran untuk menuju kesuksesan dan juga tips bagaimana menciptakan inovasi berwirausaha di tengah modernisasi industri musik.
MOFEST menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengeksplorasi, dan menyampaikan aspirasi dalam pengelolaan #UangKita atau APBN. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan MOFEST dapat mengunjungi halaman website www.kemenkeu.go.id/mofest.***