Petugas Kesehatan Haji Dibekali Kemampuan Hipnoterapi

Sharing is caring!

Jakarta, 25 Juni 2019 – Saat pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi, tak jarang dijumpai jemaah haji yang mengalami kelelahan dan stres sehingga tidak mau beraktivitas atau sebaliknya beraktivitas secara berlebihan. Hal ini dapat disebabkan karena faktor usia, beratnya prosesi haji, cuaca ekstrim atau ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kondisi jemaah seperti itu tentu butuh penanganan khusus tidak hanya perawatan secara medis.

Pengalaman tersebut mengemuka saat acara Konsolidasi dan Penguatan Komunikasi Persuasif Petugas Kesehatan Haji Indonesia Tahun 2019 di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Cilandak, Jakarta (23/6). Sekitar 60 orang peserta yang mengikuti pembekalan ini ialah para Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang berasal dari kawasan Jabodetabek.

”Beberapa pengalaman yang dialami petugas kesehatan ketika menghadapi jemaah haji yang merasakan kelelahan atau stres. Sementara kemampuan teknis sebagai tenaga kesehatan yang menonjol ialah memberikan tindakan medis dengan pengobatan. Padahal bisa didukung dengan penanganan kekuatan mental dan mendorong motivasi spiritual kepada jemaah,” ujar Iman Kastubi, Widyaiswara asal Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto Jawa Barat.

Kemampuan komunikasi persuasif yang diberikan kepada tenaga kesehatan yang tergabung dalam TKHI dirasakan amat diperlukan. Hal ini mengingat para TKHI yang sehari-hari menangani jemaah secara langsung dalam kelompok terbangnya. Teknik komunikasi seperti ini menjadi salah satu upaya untuk melengkapi kemampuan teknis tenaga kesehatan untuk memandirikan jemaah dalam memelihara kesehatannya.
Terdapat empat macam materi komunikasi persuasif yang disampaikan kepada para peserta, yakni promosi kesehatan, akupresur/pijat, SEFT dan hipnoterapi. Tujuan komunikasi ini untuk membuat perubahan pada sikap dan perilaku individu.

Dalam setiap kesempatan melakukan komunikasi persuasif, Iman selalu menganjurkan para petugas kesehatan untuk membina suasana terlebih dulu agar materi yang disampaikan dapat lebih mudah diterima ketika keadaan sudah mulai cair. Bina suasana dapat menciptakan rasa nyaman, akrab, percaya diri, melepas ego, dan mengondisikan peserta siap menerima materi.

Dalam melakukan promosi kesehatan, TKHI diajarkan bagaimana menyampaikan penyuluhan kepada jemaah haji untuk melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) atau imbauan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

”Aktivitas promosi kesehatan dapat dilakukan di mana saja, tidak selalu disampaikan secara berkelompok dalam kloter akan tetapi dapat pula diberikan kepada individu atau beberapa orang jemaah di tempat tertentu seperti pelataran Mesjid Nabawi atau ruang tunggu bandara,” kata Iman, yang juga pernah bertugas sebagai petugas kesehatan haji pada tahun 2017 dan 2018.

Materi berikutnya yang disampaikan ialah komunikasi berbasis NLP (Neuro Linguistic Programming). Teknik pengaturan pola pikiran bawah sadar ini telah dikenal masyarakat luas sebagai teknik penyembuhan dari penyakit tertentu, peningkatan kapasitas diri hingga kemampuan berkomunikasi di depan umum.

Dilanjutkan dengan teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang merupakan teknik pengembangan diri gabungan beberapa macam teknik terapi. Termasuk di antaranya ialah kekuatan spiritual untuk mengatasi berbagai macam masalah fisik, emosi, pikiran, sikap, motivasi, perilaku dan pengembangan diri.

Pada teknik ini, peserta diminta untuk melakukan persiapan dulu (setup) dengan menepuk pangkal bawah tangan atau menekan dan memutar titik di sekitar dada bagian atas. Kemudian dilanjutkan dengan mengetuk titik-titik meridian yang berada di area wajah, dada dan jari tangan.

Terakhir, para peserta juga menerima materi hipnoterapi. Pikiran manusia jika dibagi dua, maka akan terdiri dari alam sadar (12%) dan alam bawah sadar (88%). Mayoritas pikiran bahwa sadar tersebut menjadi wilayah kejiwaan yang membentuk emosi, intuisi, memori jangka pangjang dan naluri.

Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan kemampuan hipnoterapi, salah satunya untuk terapi gangguan fisik dan psikologis. Seluruh peserta diperkenalkan dengan protokol atau tahapan demi tahapan tindakan yang harus dilakukan untuk menghipnosis orang. Mulai dari tahap pra induksi, lalu induksi untuk memberikan sugesti yang dapat membawa pasien/klien untuk berpindah dari alam sadar ke setengah sadar.

Dalam kondisi relaksasi, pasien atau jemaah akan dibimbing memasuki kondisi hipnosis yang lebih dalam. Pada fase ini bisa diberikan sugesti kesehatan badan atau perasaan gembira atau keadaan positif lainnya yang disesuaikan dengan kondisi jemaah. Proses ini dapat dilalui dalam tempo waktu 5 hingga 10 menit.

Metode hipnoterapi ini terbukti ampuh untuk mengatasi masalah kejiwaan seperti fobia kecemasan meninggalkan keluarga. Kasus lain yang sering ditangani mulai dari menghilangkan kebiasaan merokok, mengurangi kecemasan akibat lingkungan baru, dan tidak mau makan. Ini semua dapat diatasi selama klien/jemaah masih mampu mendengar paham dan mengerti apa yang disampaikan oleh terapis dengan memberikan support mental, membantu jemaah haji dengan cara memberikan sugesti positif melalui alam bawah sadarnya. Selain menerima teori dan konsep komunikasi persuasif, seluruh peserta juga melakukan praktik hipnoterapi.

Dengan model penanganan melalui penguatan mental dan memotivasi dengan kedekatan spiritual atau diajak bergembira serta ajakan untuk terus sehat dapat memudahkan jemaah agar lebih khusyuk dalam beribadah haji.

”Harapannya jemaah bisa mandiri menyelesaikan masalahnya tanpa bergantung pada tenaga kesehatan. Yang sakit bisa kembali sehat sambil bersabar yakin akan pertolongan Allah. Sedangkan yang sehat dapat membantu petugas kesehatan TKHI yang 3 orang tidak dibebani dengan kebutuhan penanganan yang berlebihan. Jemaah saling memperhatikan, saling dukung, saling menyelamatkan dan menyehatkan,” ucap Iman lagi.
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc., yang hadir membuka acara berharap para TKHI ini dapat menggunakan kemampuan komunikasi persuasif ini kepada jemaah haji yang membutuhkan. Kasus-kasus yang sudah dicontohkan perlu cara khusus yang tidak hanya dapat ditanggulangi hanya dengan penanganan medis semata.

Ahmad Rukhyat, salah seorang peserta asal RSCM Jakarta merasakan manfaat mengikuti pelatihan ini. Perawat yang baru pertama kali bertugas tahun ini membayangkan dengan jumlah jemaah setiap kloter sekitar 400 orang dengan karakteristik yang berbeda-beda, petugas mesti menggunakan pendekatan yang efektif.

”Pelatihan ini sangat penting untuk para petugas. Saya harap bisa dilaksanakan setiap tahun untuk pembekalan para petugas kesehatan haji,” harap Ahmad.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *